A. PENGERTIAN
EKOLOGI
Inti
permasalahan lingkungan hidup adalah hubungan makhluk hidup dengan
lingkungannya. Pengertian ekologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan
timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Istilah ekologi pertama
kali digunakan oleh Haeckel, seorang ahli Biologi, dalam pertengahan tahun
1960-an. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani yaitu: "oikos" yang
berarti rumah, dan "logos" berarti ilmu. Karena itu secara harfiah,
pengertian ekologi adalah ilmu tentang makhluk hidup dalam rumahnya atau dapat
diartikan juga sebagai ilmu tentang rumah tangga makhluk hidup.
Selain
definisi umum di atas, terdapat juga pengertian ekologi yang dikemukan oleh
beberapa ahli, beberapa diantaranya sebagai berikut:
Odum
(1971): Ekologi adalah kajian terstruktur dan fungsi alam, tentang struktur dan
interaksi antara sesama organisme dengan lingkungannya.
Odum
(1975): Ekologi adalah kajian tentang rumah tangga bumi termasuk flora, fauna,
mikroorganisme, dan manusia yang hidup bersama dan saling bergantung satu sama
lain.
Miller
(1975): Ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara organisme dan
sesamanya serta dengan lingkungan tempat tinggalnya.
Otto
Soemarwoto: Ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk
hidup dengan lingkungannya.
Dalam
ekologi, tiga aspek utama yang dimiliki dan berlaku dalam kajiannya adalah
sebagai berikut:
1. Studi
tentang hubungan organisme atau group dengan lingkungannya.
2. Studi
tentang hubungan antara organisme atau group organisme terhadap lingkungannya.
3. Studi
tentang struktur dan fungsi alam.
Prinsip-prinsip
utama yang dianut dalam ekologi antara lain:
1. Interaksi
(interaction)
2. Saling
ketergantungan (interdependence)
3. Keanekaragaman
(diversity)
4. Keharmonisan
(harmony)
5. Kemampuan
berkelanjutan (sustainability)
Dalam
ekologi, kita mempelajari makhluk hidup sebagai kesatuan atau sistem dengan
lingkungannya. Definisi ekologi seperti di atas, pertama kali disampaikan oleh
Ernest Haeckel (zoologiwan Jerman, 1834-1914). Ekologi adalah cabang ilmu
biologi yangbanyak memanfaatkan informasi dari berbagai ilmu pengetahuan lain,
seperti : kimia, fisika, geologi, dan klimatologi untuk pembahasannya.
Penerapan ekologi di bidang pertanian dan perkebunan di antaranya adalah
penggunaan kontrol biologi untuk pengendalian populasi hama guna meningkatkan
produktivitas.
Ekologi
berkepentingan dalam menyelidiki interaksi organisme dengan lingkungannya.
Pengamatan ini bertujuan untuk menemukan prinsip-prinsip yang terkandung dalam
hubungan timbal balik tersebut. Dalam studi ekologi digunakan metoda pendekatan
secara rnenyeluruh pada komponen-komponen yang berkaitan dalam suatu sistem.
Ruang lingkup ekologi berkisar pada tingkat populasi, komunitas, dan ekosistem.
Pembahasan
ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen
penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktora biotik antara lain suhu,
air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk
hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga
berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu
populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu
sistem yang menunjukkan kesatuan.
B. POPULASI
DAN KOMUNITAS
Populasi
Populasi adalah sekelompok mahkluk hidup dengan spesies yang sama, yang
hidup di suatu wilayah yang sama dalam kurun waktu yang sama pula. Misalnya
semua rusa di Isle Royale membentuk suatu populasi, begitu juga dengan
pohon-pohon cemara. Ahli ekologi memastikan dan menganalisa jumlah dan
pertumbuhan dari populasi serta hubungan antara masing-masing spesies dan
kondisi-kondisi lingkungan.
·
Faktor yang menentukan populasi
Jumlah dari suatu populasi tergantung pada pengaruh dua kekuatan dasar.
Pertama adalah jumlah yang sesuai bagi populasi untuk hidup dengan kondisi yang
ideal. Kedua adalah gabungan berbagai efek kondisi faktor lingkungan yang
kurang ideal yang membatasi pertumbuhan. Faktor-faktor yang membatasi
diantaranya ketersediaan jumlah makanan yang rendah, pemangsa, persaingan
dengan mahkluk hidup sesama spesies atau spesies lainnya, iklim dan penyakit.
Jumlah terbesar dari populasi tertentu yang dapat didukung oleh
lingkungan tertentu disebut dengan kapasitas beban lingkungan untuk spesies
tersebut. Populasi yang normal biasanya lebih kecil dari kapasitas beban
lingkungan bagi mereka disebabkan oleh efek cuaca yang buruk, musim mengasuh
bayi yang kurang bagus, perburuan oleh predator, dan faktor-faktor lainnya.
·
Faktor-faktor yang merubah
populasi
Tingkat populasi dari spesies bisa banyak berubah sepanjang waktu.
Kadangkala perubahan ini disebabkan oleh peristiwa-peristiwa alam. Misalnya
perubahan curah hujan bisa menyebabkan beberapa populasi meningkat sementara
populasi lainnya terjadi penurunan. Atau munculnya penyakit-penyakit baru
secara tajam dapat menurunkan populasi suatu spesies tanaman atau hewan.
Sebagai contoh peralatan berat dan mobil menghasilkan gas asam yang dilepas ke
dalam atmosfer, yang bercampur dengan awan Dan turun ke bumi sebagai hujan
asam. Di beberapa wilayah yang menerima hujan asam dalam jumlah besar populasi
ikan menurun secara tajam.
Populasi berasal dari bahasa latin yaitu populous = rakyat,
berarti penduduk. Didalam pelajaran ekologi, populasi adalah sekelompok
individu yang sejenis. Apabila kita membicarakan populasi, haruslah disebut
jenis individu yang dibicarakan dengan menentukan batas – batas waktunya serta
tempatnya. Jadi, populasi adalah Kumpulan individu sejenis yang hidup pada
suatu daerah dan waktu tertentu.
Sifat – sifat yang dimiliki populasi antara lain sebagai berikut :
a.
Kerapatan atau kepadatan.
Kerapatan lazim digunakan pada tumbuhan, sedangkan
kepadatan biasanya digunakan pada manusia. Populasi organisme pada suatu daerah
tidak akan tetap dari waktu ke waktu berikutnya. Jika jumlah populasi suatu
jenis berubah, kepadatan populasinya juga akan berubah. Ada dua hal yang
mempengaruhi perubahan kepadatan populasi organisme pada suatu daerah, yaitu
adanya individu yang datang, yaitu individu yang lahir dan yang datang dari
tempat lain atau imigrasi serta adanya individu yang pergi, yaitu individu yang
mati daan yang pergi pindah ke tampat lain atau emigrasi.
Apabila luas suatu daerah tetap dan jumlahnya individu yang
datang lebih besar daripada yang pergi maka kepadatan populasi akan mengecil.
Pada suatu daerah yang tersedia cukup ruang dan makanan akan cenderung
mendorong bertambahnya jumlah individu. Hal itu akan meningkatkan jumlah
populasi sekaligus meningkatkan kepadatan populasi. Meningkatnya jumlah
populasi organisme pada suatu daerah akan menyebabkan terjadinya pertumbuhan
populasi. Pertumbuhan populasi akan terus berlangsung selama lingkungan mampu
menunjang kehidupan. Apabila populasi sudah mencapai titik maksimum atau
melebihi daya dukung lingkungan akan menurun.
Kecepatan
pertumbuhan populasi pada dasarnya bergantung pada rasio antara natalitas
dengan mortalitas. Apabila natalitas lebih besar dari pada mortalitas, pertumbuhan
populasinya meningkat. Apabila natalitas lebih kecil dari pada mortalitas,
pertumbuhan populasinya menurun.
b.
Natalitas (angka Kelahiran)
Natalitas atau angka kelahiran adalah angka yang
menunjukkan jumlah individu baru yang menyebabkan populasi bertambah per satuan
waktu. Dengan demikan, meningkatnya natalitas merupakan faktor pendorong
meningkatnya pertumbuhan populasi.
c.
Mortalitas (angka Kematian)
Mortalitas atau angka kematian adalah angka yang
menunjukkan jumlah pengurangan individu per satuan waktu. Terjadinya kematian
merupakan salah satu faktor utama yang mengontrol ukuran suatu populasi.
Populasi organisme pada suatu ekosistem senantiasa mengalami perubahan.
Perubahan tersebut ada yang tampak jelas dan ada pula yang tidak jelas.
d.
Bentuk pertumbuhan, Penyebaran umur dan
perkembangan populasi.
Penyebaran umur merupakan cirri atau sifat penting populasi
yang mempengaruhi natalitas dan mortalitas. Karena itu suatu populasi
menentukan status reproduktif yang sedang berlansung dari populasi dan menyatakan
apa yang dapat diharapkan pada masa mendatang. Biasanya populasi yang sedang
berkembang cepat mengandung sebagian besar individu – individu muda, populasi
yang stasioner memiliki umur yang lebih merata dan populasi yang menurun akan
mengandung sebagian besar individu –individu yang berumur tua. Jika dikaji
lebih dalam maka terdapat tiga umur ekologi yaitu prereproduktif, reproduktif
dan posreproduktif.
e.
Perluasan atau penyebaran
populasi.
Perluasan atau penyebaran populasi adalah gerakan
individu – individu atau anak – anaknya kedalam atau keluar darerah dari
populasi. Ada tiga bentuk penyebaran populasi yaitu sebagai berikut:
a)
Emigrasi yaitu gerakan keluar atau
kepergian individu keluar dari batas – batas tempat populasi sehingga
populasinya berkurang.
b)
Imigrasi yaitu gerakan kedalam
batas – batas tempat populasi, sehingga populasi bertambah.
c)
Migrasi yaitu berangkat (pergi)
dan dating (kembai) secara periodic.
d)
Mempunyai sifat – sifat genetic
yang berhubungan secara lansung dengan ekologi, yaitu : beradaptasi,
keserasian, reproduktif dan ketahanan.
Komunitas
Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup
pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi
satu sama lain. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila
dibandingkan dengan individu dan populasi.
Dalam tingkatan komunitas ciri, sifat dan kemampuannya
lebih tinggi dari populasi misalnya dalam hal interaksi. Dalam komunitas bisa
terjadi interaksi antar populasi, tidak hanya antar individu-spesies seperti
pada populasi. Hubungan antar populasi ini menggambarkan berbagai keadaan yaitu
bisa saling menguntungkan sehingga terwujud sutau hubungan timbal balik yang
positif bagi kedua belah pihak (mutualisme). Sebaliknya bisa juga terjadi hubungan
salah satu pihak dirugikan (parasitisme).
Yang harus diperhatikan bila suatu komunitas sudah
terbentuk, maka populasi-populasi yang ada haruslah hidup berdampingan atau
bertetangga satu sama lainnya. Dalam biosistem komunitas ini berasosiasi dengan
komponen non hidup (abiotik) membentuk suatu ekosistem.
Di alam terdapat bermacam-macam komunitas yang secara garis
besar dapat dibagi dalam dua bagian yaitu:
1. Komunitas akuatik, misalnya yang terdapat di laut,
danau, sungai, parit atau kolam.
2. Komunitas terestrial, yaitu kelompok organisme yang
terdapat di pekarangan, di hutan, di padang rumput, di padang pasir, dll.
Dalam komunitas, semua organisme merupakan bagian dari
komunitas dan antara komponennya saling berhubungan melalui keragaman
interaksinya. Interaksi antarkomponen ekologi dapat merupakan interaksi
antarorganisme, antarpopulasi, dan antarkomunitas.
1.
Interaksi antar organisme.
Semua makhluk hidup selalu bergantung kepada
makhluk hidup yang lain. Tiap individu akan selalu berhubungan dengan individu
lain yang sejenis atau lain jenis, baik individu dalam satu populasinya atau
individu-individu dari populasi lain. Interaksi demikian banyak kita lihat di
sekitar kita. Interaksi antar organisme dalam komunitas ada yang sangat erat
dan ada yang kurang erat. Interaksi antarorganisme dapat dikategorikan sebagai
berikut.
Netral adalah hubungan tidak saling mengganggu
antarorganisme dalam habitat yang sama yang bersifat tidak menguntungkan dan
tidak merugikan kedua belah pihak, disebut netral.
Predasi adalah hubungan antara mangsa dan pemangsa
(predator). Hubungan ini sangat erat sebab tanpa mangsa, predator tak dapat
hidup. Sebaliknya, predator juga berfungsi sebagai pengontrol populasi mangsa.
Parasitisme adalah hubungan antarorganisme yang berbeda spesies,
bilasalah satu organisme hidup pada organisme lain dan mengambil makanan dari
hospes/inangnya sehingga bersifat merugikan inangnya.
Komensalisme adalah merupakan hubunganantara dua organisme
yang berbeda spesies dalam bentuk kehidupan bersama untuk berbagi sumber
makanan; salah satu spesies diuntungkan dan spesies lainnya tidak dirugikan.
Mutualisme adalah hubungan antara dua organisme yang
berbeda spesies yang saling menguntungkan kedua belah pihak.
2.
Interaksi Antarpopulasi
Antara populasi yang satu dengan populasi lain
selalu terjadi interaksi secara langsung atau tidak langsung dalam
komunitasnya.Contoh interaksi antarpopulasi adalah sebagai berikut.
Alelopati merupakan interaksi antarpopulasi,
bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya
populasi lain. Contohnya, di sekitar pohon walnut (juglans) jarang ditumbuhi
tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat yang bersifat toksik.
Pada mikroorganisme istilah alelopati dikenal
sebagai anabiosa. Contoh, jamur Penicillium sp. dapat menghasilkan antibiotika
yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu.
Kompetisi merupakan interaksi antarpopulasi, bila
antarpopulasi terdapat kepentingan yang sama sehingga terjadi persaingan untuk
mendapatkan apa yang diperlukan. Contoh, persaingan antara populasi kambing
dengan populasi sapi di padang rumput.
3.
Interaksi Antar Komunitas
Komunitas adalah kumpulan populasi yang berbeda
di suatu daerah yang sama dan saling berinteraksi. Contoh komunitas, misalnya
komunitas sawah dan sungai. Komunitas sawah disusun oleh bermacam-macam
organisme, misalnya padi, belalang, burung, ular, dan gulma. Komunitas sungai
terdiri dari ikan, ganggang, zooplankton, fitoplankton, dan dekomposer. Antara
komunitas sungai dan sawah terjadi interaksi dalam bentuk peredaran nutrien
dari air sungai ke sawah dan peredaran organisme hidup dari kedua komunitas
tersebut.
Interaksi antarkomunitas cukup komplek karena tidak hanya
melibatkan organisme, tapi juga aliran energi dan makanan. Interaksi
antarkomunitas dapat kita amati, misalnya pada daur karbon. Daur karbon
melibatkan ekosistem yang berbeda misalnya laut dan darat.
C.
Ekosistem
Ekosistem adalah tempat dimana terjadinya proses saling
interaksi dan ketergantungan antara makhluk hidup sebagai komponen biotik,
dengan lingkungan hidupnya yang merupakan komponen abiotik
Interaksi antara komponen biotik dengan abiotik membentuk
ekosistem. Hubunganantara organisme dengan lingkungannya menyebabkan terjadinya
aliran energi dalam sistem itu. Selain aliran energi, di dalam ekosistem
terdapat juga struktur atau tingkat trofik, keanekaragaman biotik, serta siklus
materi.
Dengan adanya interaksi-interaksi tersebut, suatu ekosistem dapat
mempertahankan keseimbangannya. Pengaturan untuk menjamin terjadinya
keseimbangan ini merupakan ciri khas suatu ekosistem. Apabila keseimbangan ini
tidak diperoleh maka akan mendorong terjadinya dinamika perubahan ekosistem
untuk mencapai keseimbangan baru.
D. KOMPONEN
PENYUSUN EKOSISTEM
1. Faktor
biotik adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik
tumbuhan maupun hewan.
Komponen
faktor biotik diantaranya adalah :
a. Produsen,
semua organisme berhijau daun(berklorofil) tergolong produser. produser dapat
menyediakan bahan makanan bagi makhluk hidup lain. Produser meliputi organisme
bersel satu seperti ganggang,tumbuhan lumut,tumbuhan paku,dan tumbuhan biji.
b. konsumen
merupakan makhluk hidup yang berperan sebagai pemakan bahan organik atau energi
yang dihasilkan oleh produsen yang bertujuan untuk menjaga kelangsungan
hidupnya. Manusia, hewan, dan tumbuhan tak berklorofil merupakan konsumen
karena tidak dapat mengubah bahan anorganik menjadi bahan organik sehingga
manusia, hewan, dan tumbuhan tak berklorofil disebut konsumen.
b.
Dekomposer(pengurai)Mikroorganisme yang berperan menguraikan tubuh makhluk
hidup lain yang mati atau sampah-sampah. Makhluk hidup yang tergolong pengurai
adalah jamur dan bakteri.
Faktor biotik juga meliputi
tingkatan-tingkatan organisme yang meliputi individu, populasi, komunitas,
ekosistem, dan biosfer. Tingkatan-tingkatan organisme makhluk hidup tersebut
dalam ekosistem akan saling berinteraksi, saling mempengaruhi membentuk suatu
sistemyang menunjukkan kesatuan.
2. Faktor
Abiotik
Faktor abiotik adalah faktor tak
hidup yang meliputi faktor fisik dan kimia. Faktor fisik utama yang
mempengaruhi ekosistem adalah sebagai berikut.
a. Suhu
berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang diperlukan
organisme untuk hidup. Ada jenis-jenis organisme yang hanya dapat hidup pada
kisaran suhu tertentu.
b.
Sinar matahari
Sinar matahari mempengaruhi
ekosistem secara global karena matahari menentukan suhu. Sinar matahari juga
merupakan unsur vital yang dibutuhkan oleh tumbuhan sebagai produsen untuk
berfotosintesis.
c.
Air
Air berpengaruh terhadap ekosistem
karena air dibutuhkan untuk kelangsungan hidup organisme. Bagi tumbuhan, air
diperlukan dalam pertumbuhan, perkecambahan, dan penyebaran biji; bagi hewan
dan manusia, air diperlukan sebagai air minum dan sarana hidup lain, misalnya
transportasi bagi manusia, dan tempat hidup bagi ikan. Bagi unsur abiotik lain,
misalnya tanah dan batuan, air diperlukan sebagai pelarut dan pelapuk.
d.
Tanah
Tanah merupakan tempat hidup bagi organisme.
Jenis tanah yang berbeda menyebabkan organisme yang hidup didalamnya juga
berbeda. Tanah juga menyediakan unsur-unsur penting bagi pertumbuhan organisme,
terutama tumbuhan.
e.
Ketinggian
Ketinggian tempat menentukan jenis
organisme yang hidup di tempat tersebut, karena ketinggian yang berbeda akan
menghasilkan kondisi fisik dan kimia yang berbeda.
f.
Angin
Angin selain berperan dalam
menentukan kelembapan juga berperan dalam penyebaran biji tumbuhan tertentu.
f. Garis
lintang
Garis
lintang yang berbeda menunjukkan kondisi lingkungan yang berbeda pula. Garis
lintang secara tak langsung menyebabkan perbedaan distribusi organisme di
permukaan bumi. Ada organisme yang mampu hidup pada garis lintang tertentu saja.
E. FUNGSI
EKOSISTEM
Sebagai ekosistem yang memiliki integritas
fungsi. Ekosistem yang demikian mampu memelihara keberlangsungan secara
mandiri. Bahkan dapat menunjang kehidupan sebagai organisme yang
secara alami bersifat langka. Salah satu ekosistem yang terdapat di muka bumi
yang mampu memberikan jasa ekologis yang tinggi apabila tidak
mengalami gangguan adalah ekosistem hutan. Adapun fungsi
-fungsi utama dari hutan dan ekosistem alami lainnya adalah sebagai berikut.
1. Fungsi Ekologis
Fungsi ekologis ekosistem meliputi
pengaturan tata guna air, perlindungan tanah, menjaga iklim setempat, menghasilkan
oksigen (O 2) dan mengubah karbondioksida (CO2) dalam bentuk biomassa
tanam an serta pengendalian hama. Hutan berperan penting dalam pengaturan
tata guna air, karena hutan mempunyai beberapa lapisan tajuk,
keanekaragaman jenis tumbuhan yang tinggi, mempunyai lapisan
seresah dan humus pada lantai hutan, sehingga air hujan yang jatu h akan
tertahan pada lapisan –lapisan tersebut dan air akan dilepas secara perlahan.
Tanah juga terlindung dari bahaya erosi karena adanya intersepsi air oleh
lapisan -lapisan tersebut dan tertutupnya tanah oleh seresah. Adanya
lapisan tajuk akan memberikan perlindungan pada tanah dari panas matahari
dan pengaturan kelembaban, sehingga dapat mempengaruhi iklim setempat. Hutan juga
merupakan tempat hidup berbagai jenis satwa
liar, termasuk pemangsa hama (burung hantu pemakan tikus dan pemakan
serangga), hewan penyerbuk bunga (burung dan kalelawar).
2. Fungsi Ekonomi
Yaitu penyedia bahan makanan, bahan
baku bangunan, bahan obat - obatan, dan kosmetik. Diantara banyak jenis
hewan dan tumbuhan, ternyata masih sedikit yang dibudidayakan, sehingga banyak
bahan –bahan yang dipanen secara langsung dari ekosistem alami sebagai bahan
bangunan (kayu), bahan makanan (sagu),
binatang buruan, ikan dan lainnya. Begitu juga bahan untuk obat -obatan
dan kosmetik yang diolah baik secara tradisional maupun modern, seperti
bangsa jahe -jahean.
3. Fungsi Sumberdaya Plasma Nuftah (Genetik).
Ekosistem alami seperti hutan
mempunyai keanekaragaman jenis yang tinggi. Kerabat jenis-jenis budidaya yang
terdapat di ekosistem alami dalam jumlah populasi yang besar merupakan
tempat tersimpannya gen (pembawa sifat). Gen tersebut kemungkinan
tidak dimiliki oleh jenis yang dibudidayakan, misalnya jenis yang tahan
terhadap penyakit tertentu, rasa dan ukuran buah tertentu. Oleh karenanya
fungsi ekosistem ini sangat berguna dalam pengembangan berbagai tanaman
dan hewan yang
dibudidayakan untuk kepentingan umat manusia.
4. Fungsi Ilmiah dari Pendidikan
Dalam ekosistem alami masih banyak
terdapat jenis tumbuhan dan hewan yang belum diketahui sejarah kehidupan dan
manfaatnya, sehingga ekosistem merupakan tempat bag i penelitian
ilmiah, di samping itu ekosistem alami merupakan objek yang sangat
menarik bagi penelitian dalam rangka mempelajari indikator biologis,
serta proses ekologis yang belum diketahui.
4. Fungsi Estetika dan Budaya
Keindahan alam baik
komponen hayati maupun non hayati, seperti tumbuhan, hewan, bentang alam,
iklim, dan kombinasinya merupakan daya
tarik bagi wisatawan. Komponen hayati dapat juga menjadi bagian budaya atau upacara adat tertentu
atau dijadikan lambang. Berbagai budaya
suku bangsa di Indone sia sangat erat kaitannya dengan dinamika ekosistem dan komponen hayati
yang terkandung di dalamnya. Sebagai contoh,
berbagai suku asli di Papua menganggap bahwa jenis –jenis tumbuhan
atau hewan tertentu merupakan bagian dari marga mereka sehingga mendapat tempat terhormat dalam kehidupan mereka.
Diantara jenis-jenis
yang diberi tempat terhormat adalah sagu, kelapa, anjing, dan babi.
F. PENGERTIAN
EKOSISTEM ALAMI DAN EKOSISTEM BUATAN
1)
Ekosistem alami
Ekosistem alami adalah ekosistem yang
terbentuk secara alami tanpa adanya campur tangan manusia. Ekosistem alami
dibedakan menjadi dua, yaitu ekosistem darat dan ekosistem perairan.
Ekosistem darat adalah ekosistem yang
faktor lingkungan eksternalnya didominasi oleh daratan. Ekosistem dapat
dibedakan menjadi Ekosistem darat alami dan Ekosistem suksesi. Ekosistem
darat alami adalah ekosistem yang tumbuh dan berkembang secara alami.
Berdasarkan topografinya ekosistem darat alami di Indonesia dapat dibedakan
menjadi Ekosistem vegetasi pamah, ekosistem vegetasi pegunungan, dan ekosistem
vegetasi munson. Sedangkan ekosistem suksesi dibedakan menjadi ekosistem
suksesi primer dan ekosistem suksesi sekunder. Ekosistem suksesi primer adalah
ekosistem yang tumbuh pada permukaan yang terbuka. Jadi mula-mula vegetasinya
kosong, hanya ada batuan, kemudian terjadi suksesi dan tumbuh ekosistem baru.
Contohnya pada suksesi yang terjadi di krakatau. Ekosistem adalah
ekosistem yang tumbuh akibat ekosistem alami rusak. Jadi ekosistem sekunder
tidak dimulai dari kondisi yang kosong. Misalnya jika hutan terbakar, akan
muncul hutan belantara lagi setelah mengalami suksesi sekunder.

Ekosistem
suksesi yang terbentuk setelah meletusnya gunung krakatau.
2)
Ekosistem Buatan
Ekosistem buatan adalah ekosistem yang
diciptakan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Ekosistem buatan mendapatkan
subsidi energi dari luar, tanaman atau hewan peliharaan didominasi pengaruh
manusia, dan memiliki keanekaragaman rendah.
Contoh
ekosistem buatan yaitu :
a.
Ekosistem Sawah
Sawah
masuk ke dalam ekosistem buatan karena keberadaan sawah dibuat oleh manusia
sebagai pemenuh kebutuhan hidup akan makanan. Manusia berperan penting dalam
ekosistem sawah. Baik dalam pembentukan struktur, komponen, dan pengaturan
sawah.

b.
Ekosistem Hutan Buatan
Sebagai
contoh dalam pembahasan ekosistem hutan buatan, akan diambil hutan mangrove.
Mangrove berfungsi membantu melindungi pantai dari erosi (abrasi) oleh air
laut, angin ribut, dan gelombang laut. Mereka mencegah erosi garis pantai
dengan bertindak sebagai penghalang dan penangkap element alluvial, sehingga
menstabilkan ketinggian daratan dengan membentuk daratan baru untuk mengimbangi
hilangnya sedimen.

G. PENGELOLAAN
EKOSISTEM DAN PERMASALAHAN EKOSISTEM
Penyebab gangguan lingkungan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu
ulah manusia dan peristiwa alam.
1) Ulah Manusia
Lingkungan sawah dan ladang yang telah mencapai
keseimbangan ekosistem tiba-tiba dibongkar untuk dijadikan kawasan industri
atau perumahan. Demikia n juga keadaan hutan beserta fauna penghuninya, yang
tadinya dalam keadaan tenang dan seimbang tiba -tiba berubah karena ulah
manusia menebang pohon -pohon serta mengubah tanahnya yang subur. ulah manusia
yang lain adalah perladangan berpindah dan perambahan hutan. Mereka membabat
hutan kemudian membuat ladang dengan tanaman semusim. Setelah panen
ditinggalkan kemudian membabat hutan yang lain lagi. Lahan yang ditinggalkan
menjadi kritis. Akibat pertambahan penduduk atau transmigrasi, diperlukan
pembukaan hutan untuk dijadikan perladangan atau pembuatan sawah baru, seperti
di Lampung Sumatera. Akibat pengrusakan hutan sebagai sumber makanan gajah,
maka gajah kehilangan makanannya. Untuk mem pertahankan hidupnya gajah harus
mencari makan di tempat lain dan sebagai sasaarannya adalah perkampungan
penduduk dengan sawah ladangnya. Jadi akibat habitat populasi gajah terganggu
maka lingkungan pun terganggu. Bila manusia tidak mengganggu habitat gaj ah
maka gajahpun tidak akan mengganggu ketentraman manusia. Ini adalah salah satu
contoh tidak seimbangnya suatu lingkungan.
2).Faktor Alamiah
Faktor alamiah merupakan penyebab kerusakan ekosistem yang terjadi
murni karena musabab alam. Misalnya saja gempa bumi, terjadinya kebakaran hutan
akibat cuaca, bajir, longsor, tsunami dan masih banyak lagi lainnya. Sederet
peristiwa tersebut memicu terjadinya perubahan ekosistem misalnya saja saat
Gunung Merapi di wilahyah Jawa Tengah meletus, maka kerusakan ekosistem di
sekitar Merapi tak bisa dihindarkan. Mahluk hidup baik itu hewan dan tumbuhan
bahkan manusia bisa mati. Hal tersebut sama saja dengan peristiwa semacam gempa
dan banjir, akan berakibat pada terganggunya kestabilan ekosistem. Sebagai
sebuat kesatuan, maka jika dalam sebuah ekosistem terdapat 1 organisme yang
mati maka akan berpengaruh pada keadaan organisme lainnya.
Pada umumnya permasalahan yang terjadi dapat diatasi dengan cara-cara
sebagai berikut:
1. Menerapkan penggunaan teknologi yang ramah
lingkungan pada pengelolaan sumber daya alam baik yang dapat maupun yang tidak
dapat diperbaharui dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampungnya.
2. Untuk menghindari terjadinya pencemaran
lingkungan dan kerusakan sumber daya alam maka diperlukan penegakan hokum
secara adil dan konsisten.
3. Memberikan kewenangan dan tanggung jawab secara
bertahap terhadap pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup.
4. Pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup
secara bertahap dapat dilakukan dengan cara membudayakan masyarakat dan
kekuatan ekonomi.
5. Untuk mengetahui keberhasilan dari pengelolaan
sumber daya alam dan lingkungan hidup dengan penggunaan indicator harus
diterapkan secara efektif.
6. Penetapan konservasi yang baru dengan memelihara
keragaman konservasi yang sudah ada sebelumnya.
7. Mengikutsertakan masyarakat dalam rangka
menanggulangi permasalahan lingkungan global.
Pengelolaan Sumber Daya Alam Berwawasan Lingkungan Hidup dan
Berkelanjutan Untuk menanggulangi masalah kerusakan yang terjadi pada
lingkungan perlu diadakan konservasi. Konservasi dapat diartikan sebagai upaya
untuk memelihara lingkungan mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat sampai
bangsa. Pengelolaan sumber daya alam merupakan usaha secara sadar dengan cara
menggali sumber daya alam, tetapi tidak merusak sumber daya alam lainnya
sehingga dalam penggunaannya harus memperhatikan pemeliharaan dan perbaikan
kualitas dari sumber daya alam tersebut. Adanya peningkatan perkembangan
kemajuan di bidang produksi tidak perlu mengorbankan lingkungan yang dapat
menimbulkan kerusakan lingkungan.
Apabila lingkungan tercemar maka akan berdampak buruk bagi kelanjutan
dari keberadaan sumber daya alam yang akhirnya dapat menurunkan kehidupan
masyarakat. Dalam pengelolaan sumber daya alam perlu diperhatikan keserasiannya
dengan lingkungan. Keserasian lingkungan merupakan proses pembentukan
lingkungan yang sifatnya relatif sama dengan pembentukan lingkungan.
Pengelolaan sumber daya alam agar berkelanjutan perlu diadakannya pelestarian
terhadap lingkungan tanpa menghambat kemajuan.
Dalam pengelolaan sumber daya alam agar tetap lestari maka dapat
dilakukan uasaha atau upaya sebagai berikut:
1. Menjaga kawasan tangkapan hujan seperti kawasan
pegunungan yang harus selalu hijau karena daerah pegunungan merupakan sumber
bagi perairan di darat.
2. Untuk mengurangi aliran permukaan serta untuk
meningkatkan resapan air sebagia air tanah, maka diperlukan pembuatan lahan dan
sumur resapan.
3. Reboisasi di daerah pegunungan, dimana daerah
tersebut berfungsi sebagai reservoir air, tata air, peresapan air, dan
keseimbangan lingkungan.
4. Adanya pengaturan terhadap penggunaan air bersih
oleh pemerintah.
5. Sebelum melakukan pengolahan diperlukan adanya
pencegahan terhadap pembuangan air limbah yang banyak dibuang secara langsung
ke sungai.
6. Adanya kegiatan penghijauan di setiap tepi jalan
raya, pemukiman penduduk, perkantoran, dan pusat-pusat kegiatan lain.
7. Adanya pengendalian terhadap kendaraan bermotor
yang memiliki tingkat pencemaran tinggi sehingga menimbulkan polusi.
8. Memperbanyak penggunaan pupuk kandang dan organik
dibandingkan dengan penggunaan pupuk buatan sehinnga tidak terjadi kerusakan
pada tanah.
9. Melakukan reboisasi terhadap lahan yang kritis
sebagai suatu bentuk usaha pengendalian agar memiliki nilai yang ekonomis.
10. Pembuatan sengkedan, guludan, dan sasag yang
betujuan untuk mengurangi laju erosi.
11. Adanya pengendalian terhadap penggunan sumber
daya alam secara berlebihan.
12. Untuk menambah nilai ekonomis maka penggunaan
bahan mentah perlu dikurangi karena dianggap kurang efisien.
13. Reklamasi lahan pada daerah yang sebelumnya
dijadikan sebagai daerah penggalian.
Pengelolaan Daur Ulang Sumber Daya alam. Tingkat pencemaran dan
kerusakan lingkungan dapat dikurangi dengan cara melakukan pengembangan usaha
seperti mendaur ulang bahan-bahan yang sebagian besar orang menganggap sampah,
sebenarnya dapat dijadikan barang lain yang bisa bermanfaat dan tentunya dengan
pengolahan yang baik. Pengelolaan limbah sangat efisien dalam upaya untuk
mengatasi masalah lingkungan. Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam
pengelolaan limbah dengan menggunakan konsep daur ulang adalah sebagai berikut:
1. Melakukan pengelompokan dan pemisahan limbah
terlebih dahulu.
2. Pengelolaan limbah menjadi barang yang bermanfaat
serta memilki nilai ekonomis.
3. Dalam pengolahan limbah juga harus mengembangkan
penggunaan teknologi.
Pelestarian Flora dan Fauna. Untuk menjaga kelestarian flora dan
fauna, upaya yang dapat dilakukan adalah mendirikan tempat atau daerah dengan
memberikan perlindungan khusus yaitu sebagai
berikut:
1. Hutan Suaka Alam merupakan daerah khusus yang
diperuntukan untuk melindungi alam hayati
2. Suaka Marga Satwa merupakan salah satu dari
daerah hutan suaka alam yang tujuannya sebagai tempat perlindungan untuk
hewan-hewan langka agar tidak punah.
3. Taman Nasional yaitu daerah yang cukup luas yang
tujuannya sebagai tempat perlindungan alam dan bukan sebagai tempat tinggal
melainkan sebagai tempat rekreasi.
4. Cagar alam merupakan daerah dari hutan suaka alam
yang dijadikan sebagai tempat perlindungan untuk keadaan alam yang mempunyai
ciri khusus termasuk di dalamnya meliputi flora dan fauna serta lingkungan
abiotiknya yang berfungsi untuk kepentingn kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar